Pasar Bebas Ideologi Islam

Indonesia,
Pasar Bebas Ideologi Islam

Islam di Indonesia sangat kaya dengan polarisasi. Sejak zaman prakemerdekaan, Islam sudah menunjukkan wajahnya yang beraneka ragam, yang direpresentasikan oleh ormas-ormas Islam. Ketika itu, sudah berdiri Jami’atul Khair, Hayatul Qulub, Muhamadiyah, Persis, Nahdlatul Ulama, Al-Irsyad, Washliyah, Nahdlatul Wathan, dll. Lahirnya ormas-ormas Islam ketika itu sesungguhnya bukan sekadar organisasi kumpul-kumpul, melainkan sudah menjadi gerakan (movement) yang didasarkan pada ideologi yang dibangun para pendirinya. Ada ideologi puritanisme, tradisionalisme, revivalisme, dan yang lainnya. Karena sifatnya sebagai gerakan, maka tak bisa dipungkiri berdirinya ormas-ormas Islam sesungguhnya menampilkan aroma konstestasi (persaingan) untuk memperebutkan klaim kebenaran (truth claim) teologis-fiqih dan pengikut (jama’ah).
Yang paling kentara dari tesis ini adalah berdirinya NU di tahun 1926 yang sering dianalisis oleh banyak pihak sebagai reaksi terhadap Muhamadiyah yang beraliran Wahabi, puritan, dan modernis. Para ulama resah terhadap pembaharuan Muhamadiyah yang menggunakan paham Wahabi yang sangat keras penolakannya terhadap tradisi, di tambah lagi dengan modernisasi pendidikan yang dilakukan Muhamadiyah yang bisa berimplikasi negatif terhadap otoritas ulama. Tak heran jika sampai sekarang ini, jika ditarik secara genealogis, ormas-ormas Islam mengalami konstestasi, gesekan, dan konflik yang menjadi sejarah panjang.
Tanpa disadari, sekarang ini kontestasi yang sudah terbaca dari setiap sejarah pendirian ormas-ormas Islam di zaman kolonialisme berujung pada kontestasi baru yang begitu beragam dengan orientasi dan ideologi baru. Sejak 1998 (pasca lengsernya rezim Soeharto), gerakan Islam di Indonesia telah menunjukkan keragaman yang luar biasa dari sayap radikal yang orientasi gerakannya beraneka ragam hingga sayap liberal yang memiliki concern garapan yang berbeda-beda. Munculnya banyak organisasi Islam sejak bergulirnya reformasi memberikan warna lain dari gerakan Islam Indonesia yang cenderung didominasi oleh kelompok Islam moderat, seperti NU dan Muhamadiyah.
Jika dulu, kontestasinya lebih banyak pada persoalan fiqhiyyah (qunut, shalat tarawih 8 atau 20 rakaat) dan teologi (sinkretisme: ziarah kubur, tradisi 7 bulan, tahlil kematian 7 hari, 40 hari, dan 1000 hari), maka sekarang ini kontestasinya dibungkus dengan ideologi politik; negara Islam dan khilafah Islamiyah. Para pemainnya pun sudah mulai banyak dengan munculnya ormas-ormas Islam baru.

Ideologi Islam Global
Dalam dekade terakhir, begitu kuat penetrasi ideologi Islam datang dari negara-negara Timur Tengah. Berbagai ideologi Islam berhamburan di tengah arus kebebasan dan keterbukaan. Tak ayal lagi perubahan politik yang demikian ini menyemarakkan gerakan-gerakan Islam, datang silih berganti, mewarnai iklim keagamaan masyarakat Indonesia. Muncullah gerakan-gerakan Islam, seperti Hizbut Tahrir, Ikhwanul Muslimin, dan Wahabi.
Semakin kukuhnya gerakan-gerakan Islam global mencerminkan bahwa Indonesia adalah kawasan pasar yang menggiurkan. Bukan saja pasar ekonomi yang begitu marak, tetapi juga pasar ideologi Islam yang sejak zaman dahulu memang sudah menjadi pasar yang mapan. Tak heran, jika sekarang ini gelombang transmisi gerakan-gerakan Islam begitu deras sampai menerjang dan menghantam keberislaman Indonesia yang sudah lama mapan, seperti NU dan Muhamadiyah.
Jika di periode Orde Baru, mereka bergerak di bawah tanah, menjadi kelompok-kelompok sel yang tidak berani keluar menunjukkan performance-nya akibat sikap represif Orde Baru terhadap Islam politik, maka di periode sekarang mereka berani menunjukkan taringnya bahkan sampai pada level melawan kepemimpinan nasional dengan menggelorakan penegakkan syariat Islam dan Khilafah Islamiyah.
Gerakan Wahabi, Hizbut Tahrir, dan Ikhwanul Muslimin adalah representasi dari ideologi Islam global, yang terus-menerus menyebarkan organisasinya ke seluruh penjuru negara; tidak hanya negara-negara Muslim di Timur Tengah dan Asia Tenggara, tetapi juga negara-negara Eropa dan Amerika. Apa yang mereka lakukan adalah merekrut anggota baru, merubah keyakinan masyarakat, dan memperjuangkan agenda-agenda mereka.
Wahabi merupakan idealisme ideologi impor yang waktu itu ingin menguasai dunia dengan ajaran-ajaran tauhidnya. Sebenarnya ada momen krusial mengapa Wahabi menjadi ideologi global, yakni ada suatu momentum ketika Jhon Gilby, peneliti dari Inggris, pada tahun 30-an merekomendasikan pada penguasa Ibn Saud yang menguasai Mekah dan Madinah untuk mengampanyekan ajaran tauhidnya ke seluruh dunia Islam. Hal itu juga bersamaan dengan munculnya keinginan besar untuk membuka kontrak baru minyaknya ke perusahaan Amerika. Saat itulah Jhon Gilby menulis satu artikel pada tahun 1931 yang berjudul “Why I becomes Wahabi”?. Dalam tulisan ini, ia merefleksikan bahwa Wahabi merupakan proyek besar yang harus digelar untuk menunjukkan kepada dunia bahwa modernisasi bisa dijalankan melalui ajaran Islam yang simplistik dan puritan seperti yang diajarkan Wahabi.
Jhon Gilby kemudian membuka peluang masuknya capital dengan membuka kontrak Ibn Saud dengan perusahaan minyak Amerika, sehingga muncullah Aramco (Arabic American Company). Dengan suplai dana dari Arab Saudi ini, Wahabi menjadi ideologi global. Ketika ada ancaman dari nasionalisme Nasr di Mesir, mereka berkeyakinan bahwa sudah saatnya dengan cara apapun Wahabi harus diekspor ke dunia Islam untuk menghabiskan kelompok-kelompok nasionalis tersebut. Lantas, Wahabi diekspor ke India. Dan India menjadi basis munculnya kelompok Deoband yang puritan yang kemudian melahirkan Jamaat Islami, pindah ke Afghanistan dengan Taliban, dan masuk ke Indonesia.
Proyek menjadikan Wahabi sebagai ideologi tunggal Islam dilakukan secara impresif. Setelah booming minyak di Arab Saudi, Saudi mempunyai power yang teramat besar untuk menyebarkan Wabahisnya khususnya dalam konteks persaingan dominasi kepemimpinan di Liga Arab maupun OKI. Jadi selalu ada persaingan-persaingan kepemimpinan di kalangan negara-negara di Timur Tengah itu sendiri. Yang selalu terlibat dalam pertarungan dominasi ini adalah Arab Saudi dengan segala kekayaannya itu, kemudian Mesir dengan sejarah ideologi sosialisme Arabnya. Arab Saudi yang merupakan negara yang paling kecil di antara negara-negara yang selalu muncul sebagai kandidat kepemimipinan itu tidak punya pilihan lain selain menggunakan uangnya itu untuk membangun pengaruh melalui penyebaran ideologi Wahabi. Misalnya diwujudkan dengan pembentukan Rabithah Alam Islami (RAI). RAI ini merupakan agen resmi dari upaya internasionalisasi dari ideologi Wahabi. Di beberapa negara, dibentuk beberapa badan-badan amal semisal di Indonesia, al-Ighatsah al-Islamiyah, yang memberi kucuran dana pada LIPIA, yayasan Haramain, dsb. Hal semacam ini hampir terjadi di seluruh dunia Islam.
Pasar baru ideologi Islam marak terjadi di Indonesia tidak terlepas dari upaya internasionalisasi yang sekarang terwujud dari transformasi yang ketiga dari kebangkitan Islam modernis, yakni Masyumi. Ada hubungan yang saling berkaitan antara beragam aktor gerakan-gerakan Islam, yang dipertemukan dalam Dewan Dakwah Islamiyah (DDI). DDI yang merupakan transformasi kedua dari Masyumi ternyata punya peran yang teramat penting. Di masa mendatang, akan terjadi pengulangan dari fase awal 1900-an ketika muncul Muhamadiyah, Persis, al-Irsyad, kemudian NU. Saat ini dengan kemunculan aktor-aktor Islam baru yang merebak di mana-mana merupakan tantangan dari tradisi yang dipegangi kalangan Nahdliyin. Karena agenda yang diusung kalangan Islam baru ini sebenarnya adalah agenda lama, ditambah dengan agenda politik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: